Senin, 07 Mei 2018

MANAJEMEN LAYANAN SISTEM INFORMASI PADA PERUSAHAAN KERETA API INDONESIA

Sejarah perkeretaapian di Indonesia dimulai ketika pencangkulan pertama jalur kereta api Semarang-Vorstenlanden (Solo-Yogyakarta) di Desa Kemijen oleh Gubernur Jendral Hindia Belanda Mr. L.A.J Baron Sloet van de Beele tanggal 17 Juni 1864. Pembangunan dilaksanakan oleh perusahaan swasta Naamlooze Venootschap Nederlansch Indische Spoorweg Maatschappij (NV. NISM) menggunakan lebar sepur 1435 mm. Sementara itu, pemerintah Hindia Belanda membangun jalur kereta api negara melalui Staatssporwegen (SS) pada tanggal 8 April 1875. Rute pertama SS meliputi Surabaya-Pasuruan-Malang. Keberhasilan NISM dan SS mendorong investor swasta membangun jalur kereta api seperti Semarang Joana Stoomtram Maatschappij (SJS), Semarang Cheribon Stoomtram Maatschappij (SCS), Serajoedal Stoomtram Maatschappij (SDS), Oost Java Stoomtram Maatschappij (OJS), Pasoeroean Stoomtram Maatschappij (Ps.SM), Kediri Stoomtram Maatschappij (KSM), Probolinggo Stoomtram Maatschappij (Pb.SM), Modjokerto Stoomtram Maatschappij (MSM), Malang Stoomtram Maatschappij (MS), Madoera Stoomtram Maatschappij (Mad.SM), Deli Spoorweg Maatschappij (DSM). Selain di Jawa, pembangunan jalur kereta api dilaksanakan di Aceh (1876), Sumatera Utara (1889), Sumatera Barat (1891), Sumatera Selatan (1914), dan Sulawesi (1922). Sementara itu di Kalimantan, Bali, dan Lombok hanya dilakukan studi mengenai kemungkinan pemasangan jalan rel, belum sampai tahap pembangunan. Sampai akhir tahun 1928, panjang jalan kereta api dan trem di Indonesia mencapai 7.464 km dengan perincian rel milik pemerintah sepanjang 4.089 km dan swasta sepanjang 3.375 km. Pada tahun 1942 Pemerintah Hindia Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang. Semenjak itu, perkeretaapian Indonesia diambil alih Jepang dan berubah nama menjadi Rikuyu Sokyuku (Dinas Kereta Api). Selama penguasaan Jepang, operasional kereta api hanya diutamakan untuk kepentingan perang. Salah satu pembangunan di era Jepang adalah lintas Saketi-Bayah dan Muaro-Pekanbaru untuk pengangkutan hasil tambang batu bara guna menjalankan mesin-mesin perang mereka. Namun, Jepang juga melakukan pembongkaran rel sepanjang 473 km yang diangkut ke Burma untuk pembangunan kereta api disana. Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945, beberapa hari kemudian dilakukan pengambilalihan stasiun dan kantor pusat kereta api yang dikuasai Jepang. Puncaknya adalah pengambil alihan Kantor Pusat Kereta Api Bandung tanggal 28 September 1945 (kini diperingati sebagai Hari Kereta Api Indonesia). Hal ini sekaligus menandai berdirinya Djawatan Kereta Api Indonesia Republik Indonesia (DKARI). Ketika Belanda kembali ke Indonesia tahun 1946, Belanda membentuk kembali perkeretaapian di Indonesia bernama Staatssporwegen/Verenigde Spoorwegbedrif (SS/VS), gabungan SS dan seluruh perusahaan kereta api swasta (kecuali DSM). Berdasarkan perjanjian damai Konfrensi Meja Bundar (KMB) Desember 1949, dilaksanakan pengambilalihan aset-aset milik pemerintah Hindia Belanda. Pengalihan dalam bentuk penggabungan antara DKARI dan SS/VS menjadi Djawatan Kereta Api (DKA) tahun 1950. Pada tanggal 25 Mei DKA berganti menjadi Perusahaan Negara Kereta Api (PNKA). Pada tahun tersebut mulai diperkenalkan juga lambang Wahana Daya Pertiwi yang mencerminkan transformasi Perkeretaapian Indonesia sebagai sarana transportasi andalan guna mewujudkan kesejahteraan bangsa tanah air. Selanjutnya pemerintah mengubah struktur PNKA menjadi Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA) tahun 1971. Dalam rangka meningkatkan pelayanan jasa angkutan, PJKA berubah bentuk menjadi Perusahaan Umum Kereta Api (Perumka) tahun 1991. Perumka berubah menjadi Perseroan Terbatas, PT. Kereta Api (Persero) tahun 1998. Pada tahun 2011 nama perusahaan PT. Kereta Api (Persero) berubah menjadi PT. Kereta Api Indonesia (Persero) dengan meluncurkan logo baru. Saat ini, PT Kereta Api Indonesia (Persero) memiliki tujuh anak perusahaan yakni PT Reska Multi Usaha (2003), PT Railink (2006), PT Kereta Api Indonesia Commuter Jabodetabek (2008), PT Kereta Api Pariwisata (2009), PT Kereta Api Logistik (2009), PT Kereta Api Properti Manajemen (2009), PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (2015). Service strategy Maksud dan tujuan perusahaan sesuai dengan Anggaran Dasar, adalah sebagai berikut: Melaksanakan dan mendukung kebijaksanaan dan program Pemerintah di bidang ekonomi dan pembangunan nasional, khususnya di bidang transportasi, dengan menyediakan barang-jasa yang bermutu tinggi dan berdaya saing kuat untuk dapat melakukan ekspansi baik di pasar domestic maupun internasional di bidang perkeretaapian, yang meliputi: Usaha pengangkutan orang dan barang dengan kereta api Kegiatan perawatan dan pengusahaan orang dan barang dengan kereta api Kegiatan perawatan dan pengusahaan prasarana perkeretaapian Pengusahaan bisnis properti secara profesional Pengusahaan bisnis penunjang prasarana dan sarana kereta api secara efektif untuk kemanfaatan umum   SASARAN Sejalan dengan Rencana Jangka Panjang Perusahaan (RJPP) 2015-2019 yang telah mendapatkan pengesahan dan persetujuan dari Pemegang Saham, maka tahapan arah pengembangan perusahaan ke depan akan mengedepankan “inovasi” sebagai inti dari setiap kegiatan dengan tetap mempertimbangkan kondisi eksternal. Dengan inovasi secara terus-menerus, diharapkan KAI dapat mencapai tujuan better business yaitu mampu memberikan pelayanan yang terbaik untuk pelanggan sekaligus memperoleh pendapatan yang optimal serta mencapai 4 (empat) Pilar Utama, yaitu Keselamatan, Ketepatan Waktu, Pelayanan, dan Kenyamanan. Secara umum, sasaran perusahaan dapat dijabarkan sebagai berikut: Membentuk citra (image) sebagai perusahaan transportasi yang menjamin safety, memberikan pelayanan tepat waktu, keamanan, dan kenyamanan selama perjalanan Perlunya jaringan jalan rel yang dapat meningkatkan kapasitas angkut sesuai dengan target yang telah ditetapkan perusahaan Pengembangan sistem informasi, safety system serta teknologi sarana dan prasarana yang dapat diandalkan sehingga meningkatkan pelayanan dan kepercayaan pelanggan Perlunya sumber dana yang besar untuk memperluas jaringan jalan rel, pembaruan sarana dan prasarana yang sudah tua, pemanfaatan lahan yang kurang optimal untuk usaha non angkutan, pengembangan fasilitas perawatan di Balai Yasa dan Depo, serta pengembangan fasilitasuntuk meningkatkan layanan angkutan penumpang dan barang Melakukan product innovation untuk tetap eksis di pasar dan memenangkan persaingan antara penyedia jasa transportasi Menerapkan marketing activities dalam menyampaikan pesan dan edukasi bagi pelanggan bahwa pelayanan yang diberikan semakin baik. 

STRATEGI PERUSAHAAN

Strategi perusahaan merupakan garis besar langkah-langkah yang akan ditempuh Perusahaan dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan oleh Direksi yang menjadi pegangan manajemen dalam melaksanakan kegiatan bisnis perusahaan. Penetapan strategi perusahaan berikut ini merupakan pedoman penerapan strategi umum untuk pencapaian arah dan sasaran perusahaan yang telah ditetapkan dalam grand strategy yang diuraikan sebagai berikut: “Meningkatkan porsi pendapatan secara agresif dari angkutan barang di Jawa dan Sumatera dengan menawarkan konsep Total Logistic Solution kepada customer untuk memberikan layanan angkutan barang pick up & delivery secara door to door services.” 

1)Mengembangkan angkutan komuter Jabodetabek dan KA ke Bandara untuk meningkatkan layanan angkutan penumpang
2)Pengembangan stasiun
3)Mengembangkan usaha properti
4)Meningkatkan safety levelo perasional kereta-api sampai ke tingkat ekstrim melalui upaya dan tekad secara terus menerus untuk mewujudkan zero accident dengan adopsi teknologi keselamatan secara tepat sasaran dan terus memperbaiki keandalan operasionalnya
5)Meningkatkan customer services dengan pelayanan yang lebih customer centric, service oriented, dan quality focused, dengan memberikan keamanan, kenyamanan, dan added value services kepada customers mulai dari stasiun keberangkatan hingga ke stasiun tujuan
6)Peningkatan peran SDM sebagai strategic business partner.
Dengan demikian, STRATEGI Perusahaan adalah: “Menjadi Solusi Transportasi Terbaik di Indonesia.


Service design 

Service Design adalah domain yang memberikan mendesain dan mengembangkan Services dan proses Service Management yang didalamnya terdapat prinsip-prinsip rancangan dan metode yang akan mengubah tujuan strategis menjadi sebuah portofolio layanan dan aset layanan [8]. Service Design menyediakan good-practice pada desain layanan TI, proses dan lainnya. Desain dalam ITIL juga mencakup semua elemen penyedia layanan teknologi yang berfokus pada desain teknologi tersebut. Sehingga bagaimana layanan yang direncanakan yakni apakah solusi sudah berinteraksi dengan bisnis dan lingkungan. Proses-proses yang terdapat pada Service Design: 
1. Design Coordination 
2. Service Catalogue Management
3. Service Level Management 
4. Capacity Management 
5. Availability Management 
6. IT Service Continuity Management 7. Information Security Management 8. Supplier Management Service Transition.


Service Transition

Domain ini menjelaskan proses transisi dari tata kelola yang lama menjadi tata kelola yang baru yang sudah dikembangkan pada tahap Service Design dan direalisasikan pada Service Operation dengan mengontrol risiko kegagalan. Service Operation Domain ini menjelaskan langkah-langkah best practice untuk melakukan manajemen service TI. Domain ini juga menjadi panduan untuk mencapai.


CONTINUAL SERVICE IMPROVEMENT S

trategi ini menekankan bahwa kunci perusahaan atau organisasi yang sukses baik dimasa ini maupun mendatang adalah dengan senantiasa tidak bersikap puas diri terhadap kesuksesan yang telah diperoleh. Sehingga penting bagi organisasi untuk senantiasa melakukan peningkatan secara terus menerus dalam perbaikan-perbaikan segala sisi.

Sumber: https://kai.id/corporate/about_kai/ http://webcache.googleusercontent.com/search?q=cache:Fp5eW8wV61cJ:repository.telkomuniversity.ac.id/pustaka/files/102296/jurnal_eproc/perancangan-service-design-pada-layanan-angkutan-penumpang-pt-kereta-api-indonesia-persero-menggunakan-framework-itil-versi-3.pdf+&cd=1&hl=id&ct=clnk&gl=id http://jurnalmahasiswa.unesa.ac.id/index.php/publika/article/view/11818/11055